Showing posts with label Biologi. Show all posts
Showing posts with label Biologi. Show all posts

Monday, 19 May 2014

KITOSAN SEBAGAI SENYAWA BIOPOLIMER PENURUN KADAR KOLESTEROL PADA LEMAK SAPI

Abstrak
Karya ilmiah ini bertujuan untuk  mengetahui apakah kitosan dapat digunakan sebagai biopolimer yang dapat menurunkan kadar kolesterol pada lemak sapi. Selain itu penelitian ini juga untuk mengetahui perbandingan antara lemak dari kitosan yang dapat menurunkan kadar kolesterol paling baik.
            Penelitian ini didesain secara real eksperimental, dengan variabel bebas berupa massa kitosan terhadap lemak sapi dan variabel terikat berupa kadar kolesterol lemak sapi yang dilakukan treatment. Dalam penelitian ini juga digunakan variabel kontrol berupa lemak sapi tanpa penambahan kitosan sebagai blankonya dan adsorbsi selama 30 menit sebagai variabel tetapnya.
            Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kitosan dapat digunakan sebagai biopolimer penurun kadar kolesterol pada lemak sapi sehingga dapat diaplikasikan untuk pembuatan suplemen makanan penurun kadar kolesterol. Selain itu dapat disimpulkan bahwa semakin besar massa kitosan yang dicampurkan bersama lemak minyak sapi, semakin besar pula penurunan kadar kolesterol pada lemak tersebut.
Kata Kunci : Kitosan, Kolesterol, Lemak Sapi



1. PENDAHULUAN
Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, dr. Dewi Endang  mengatakan bahwa kasus penyakit jantung di Indonesia mencapai 26,8%. Pada tahun 2005, penyakit jantung mencapai 29% atau sebanyak 17,1 juta pasien meninggal setiap tahunnya di seluruh dunia.
 Hal ini dikarenakan gaya hidup yang tidak sehat. Banyak sekali anak-anak yang tidak mengontrol apa yang dimakannya. Selain makanan yang dikonsumsi tidak sehat, anak-anak di usia muda pun banyak yang malas untuk melakukan kegiatan olahraga.
Terkadang makanan yang enak bukanlah makanan yang sehat. Makanan yang enak (gurih) disebabkan oleh lemak yang biasanya berasal dari daging kambing, sapi, ayam, dan lain-lain. Mengkonsumsi lewak hewani maupun lemak nabati dapat menimbulkan penyakit seperti obesitas, penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain. Makanan yang sering dikonsumsi anak muda zaman sekarang biasanya adalah makanan yang berasal dari daging, ayam, sapi, dan lain-lain, yang mengandung kolesterol tinggi.(Abdullah dan Indro dalam Winarno 2008)
Kolesterol merupakan zat yang cukup berbahaya bagi tubuh manusia. Kolesterol banyak terkandung dalam lemak hewani. Lemak hewani banyak terkandung pada hewan ternak seperti kambing dan sapi. Mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak hewani secara berlebihan sangat tidak baik karena akan menimbulkan berbagai macam penyakit. (Helmi dan Abdullah 2012)
 Kolesterol mengendap dan membuat pembuluh darah tersebut menyempit. Jika pembuluh darah menuju otak menyempit, dapat menyebabkan kurangnya suplai oksigen dan sari makanan ke otak. Hal ini menyebabkan stroke dan penyakit jantung. Sehingga perlu ada pencegahan dalam hal ini.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam lemak adalah dengan menggunakan kitosan. Senyawa ini akan membawa muatan listrik positif, yang dapat menyatu dengan zat asam empedu yang bermuatan negatif sehingga menghambat penyerapan kolesterol, karena zat lemak yang masuk bersama makanan harus dicerna dan diserap dengan zat asam empedu yang disekresi liver. (Helmi dan Abdullah 2012)
2. METODOLOGI PENELITIAN
A.    Desain Penelitian
Penelitian ini didesain secara real eksperimental, dengan variabel bebas berupa massa kitosan terhadap lemak sapi dan variabel terikat berupa kadar kolesterol lemak sapi yang dilakukan treatment. Dalam penelitian ini juga digunakan variabel kontrol berupa lemak sapi tanpa penambahan kitosan sebagai blankonya dan adsorbsi selama 30 menit sebagai variabel tetapnya. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2012 sampai tanggal 3 November 2012 di laboratorium kimia dan biologi SMA Lazuardi GIS.
B.     Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan adalah lemak/gajih sapi yang didapat dari supermarket yang ada di DTC daerah Sawangan Depok, Jawa Barat.
C.     Instrumen Penelitian
Alat :
-          Panci
-          Beaker Glass
-          Magnetic Stirrer
-          Kompor Listrik
-          Erlenmeyer
-          Corong
-          Magnet
-          Kertas saring
-          Neraca Digital
Bahan :
-          Kitosan
-          Lemak/Gajih Sapi
-          Air
-          Aseton
-          Etanol
D.    Prosedur Penelitian
a.       Pembuatan Minyak dan Pencampuran Kitosan
1.      Memotong lemak/gajih menjadi bagian-bagian kecil dan memasukkan ke dalam beaker glass ukuran besar.
2.      Memasukkan beaker glass berisi lemak ke dalam panci yang berisi air.
3.      Memanaskan lemak/gajih sapi menggunakan kompor listrik pada suhu 60oC hingga mencair menjadi minyak.
4.      Mengelompokkan minyak tersebut ke dalam beaker glass, masing-masing berisi 25 ml.
5.      Menimbang kitosan menggunakan neraca digital dan membagi nya menjadi 2x5 gr kitosan dan 2x1 gr kitosan
6.      Beaker glass pertama merupakan kelas kontrol yang tidak diberikan apa-apa dan murni minyak lemak sapi.
7.      Memberikan 1 gr kitosan pada beaker glass kedua dan mengaduk serta  memanaskan pada suhu tetap 60oC dalam waktu 30 menit menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 400 rpm.
8.      Memberikan 5 gr kitosan pada beaker glass ketiga dan mengaduk serta memanaskan pada suhu tetap 60oC dalam waktu 30 menit menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 400 rpm.
9.      Menyaring masing-masing larutan minyak dan kitosan menggunakan corong dan kertas saring serta memasukkannya ke dalam erlenmeyer.
b.      Ekstraksi dan Pemisahan Kolesterol
1.      Menambahkan masing-masing 100 ml aseton pada 25 ml minyak gajih sapi yang menjadi kelas kontrol dan hasil saring minyak gajih sapi yang telah bercampur kitosan dengan perlakuan berbeda.
2.      Mengaduk minyak yang telah bercampur aseton tersebut dan mendiamkannya selama 5 menit.
3.      Menyaring minyak yang telah bercampur menggunakan kertas saring.
4.      Mendestilasi hasil saringan di atas penangas air atau evaporator berputar untuk menghilangkan asetonnya.
5.      Mendinginkan larutan sisa (residu) dengan air ledeng.
6.      Menimbang larutan tersebut yang sudah menjadi kristal menggunakan neraca digital dan dapat mengetahui kadar kolesterol kasarnya
7.      Menambahkan sedikit etanol panas pada larutan sisa tadi.
8.      Menyaring larutan sisa menggunakan kertas saring kedalam erlenmeyer yang ada di penangas air dalam keadaan air mendidih.
9.      Menimbang hasil saringan menggunakan neraca digital dan dapat mengetahui kadar kolesterol murninya.
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil penelitian
Setelah dilakukan penelitian pengaruh penambahan kitosan terhadap adsorbsi kolesterol pada lemak sapi selama 30 menit, maka diperoleh data kadar kolesterol murni dari ketiga sampel, sebagai berikut :
Kemampuan kitosan dalam mereduksi kolesterol ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh massa kitosan terhadap kadar kolesterol yang tereduksi (volume sampel lemak 25ml)

NO.
Massa Kitosan
Volume (gr)
Massa kolesterol kasar (gr)
Massa kolesterol murni (gr)
Kadar kolesterol murni (%)
1.
-
23,75 gr
18,5 gr
14,4 gr
60,63%
2.
1 gr
23,75 gr
1,6 gr
1,0 gr
     4,21%
3.
5 gr
23,75 gr
1,6 gr
0,6 gr
2,5%

Dari tabel diatas, diperoleh hasil bahwa untuk kelas kontrol tanpa kitosan, setelah dilakukan pemisahan kolesterol, diperoleh kolesterol murni sebesar 14,4 gr. Sedangkan untuk sampel yang diberi kitosan 1 gr dan diaduk selama 30 menit, diperoleh kolesterol murni sebesar 1,0 gr. Dan untuk sampel yang diberi kitosan 5 gr dan diaduk selama 30 menit, diperoleh kolesterol murni sebesar 0,6 gr.
Adapun cara menghitung kadar kolesterol pada lemak sapi tersebut adalah sebagai berikut
1.      Minyak lemak kontrol
2.      Minyak lemak yang diberi kitosan 1 gr 
3.      Minyak lemak yang diberi kitosan 5 gr
Untuk mengetahui kadar kolesterol pada gajih sapi, diawali dengan membuat gajih tersebut menjadi minyak dengan cara memanaskan gajih/lemak sapi tersebut menggunakan kompor listrik pada suhu 60oC hingga menjadi minyak. Tujuannya adalah agar dapat dicampur bersama kitosan untuk mengetahui apakah kitosan tersebut dapat menurunkan kadar kolesterol.
Setelah gajih/sapi itu menjadi minyak kemudian dicampur dengan kitosan masing-masing 1gr dan 5gr pada minyak 25 ml lalu diaduk dalam waktu 30 menit. Minyak tersebut masih belum bisa dihitung kadar kolesterolnya sehingga disaring terlebih dahulu menggunakan kertas saring dan menambahkan 100 ml aseton pada masing-masing filtrat minyak tersebut. Aseton ini berfungsi untuk melarutkan kandungan kolesterol. Aduk larutan tersebut selama 5 menit dan diamkan selama 5 menit sebelum disaring kembali.
Selanjutnya hilangkan aseton dari filtrat tadi dengan cara destilasi di atas penangas air. Tujuannya agar dapat mengukur kadar kolesterol pada minyak tersebut tanpa campuran dari zat-zat lain. Hasil dari destilasi tadi diukur kadar kolesterolnya menggunakan neraca digital dan didapatlah kadar kolesterol kasar pada minyak/gajih tersebut.
Untuk mengetahui kadar kolesterol murni pada minyak/gajih sapi, tambahkan etanol panas pada larutan minyak hasil destilasi , karena minyak dari gajih tersebut akan cepat membeku sehingga etanol panas ini berfungsi agar setelah bereaksi bersama minyak langsung menjadi uap. Larutan minyak yang sudah ditambahkan etanol ini kemudian disaring di atas penangas air dan kadar kolesterol murni dapat diukur.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, minyak gajih sapi yang menjadi kelas kontrol memiliki kadar kolesterol 60,63%. Sedangkan minyak yang diberikan kitosan 1gr dalam pengadukan 30 menit  mengalami penurunan kadar kolesterol menjadi 4,21% dan minyak yang diberikan kitosan 5gr dalam pengadukan 30 menit mengalami penurunan kadar kolesterol menjadi 2,5% dibandingkan tanpa pemberian kitosan.
Penelitian secara invitro menunjukkan bahwa bila kitosan dicampur dengan kolesterol akan terjadi reaksi pengikatan, sehingga kolesterol tidak lagi bebas (Nyoman dalam Hawab 2009).
Kitosan mempunyai kemampuan untuk mengikat lipid dan lemak karena kitosan adalah komponen bermuatan positif, sehingga dapat menyerang dan mengikat asam lemak (yang membawa muatan negatif). Ketika diminum, kitosan melekatkan diri pada saluran usus, dan mengikat lemak yang lewat di dalam usus sebelum diserap oleh darah, karena lemak yang diikat tidak memasuki aliran darah, maka lemak tersebut dianggap "tidak bisa dicerna" oleh tubuh, sehingga lemak tersebut akan dibuang melalui saluran pencernaan. Kitosan menyerap lemak sebanyak 3-6 kali beratnya sendiri sebelum lemak tersebut diserap di dalam tubuh untuk dibuang melalui proses buang air besar. Untuk setiap gram chitosan yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan dapat mencegah absorpsi 4-6 gram lemak. (Naturakos 2008)
Kitosan bersifat tidak dapat dicernakan dan tidak diabsorbsi tubuh, sehingga lemak dan kolesterol makanan terikat menjadi bentuk non absorbsi yang tak berkalori. Sifat khas kitosan yang lain adalah kemampuannya untuk menurunkan kandungan LDL kolesterol sekaligus mendorong meningkatkan HDL kolesterol dalam serum darah. Peneliti Jepang menjuluki kitosan sebagai suatu senyawa yang menunjukkan zat hipokolesterolmik yang sangat efektif. Dengan kata lain, kitosan mampu menurunkan tingkat kolesterol dalam serum dengan efektif dan tanpa menimbulkan efek samping (http://winan08.student.ipb.ac.id/)
Semakin tinggi massa kolesterol semakin banyak kolesterol yang diserap, tetapi antara 1gr dan 5gr kitosan hanya selisih sedikit (tidak ada perbedaan yang signifikan). Dengan demikian penyerapan maksimal adalah dengan penambahan kitosan antara 1-5 gr per 25 ml minyak lemak/gajih.
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar kolesterol paling baik diperoleh dengan pemberian 5gr kitosan pada minyak gajih sapi dibanding dengan pemberian 1gr kitosan pada minyak gajih sapi yang sama.
4.      KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kitosan dapat digunakan sebagai biopolimer penurun kadar kolesterol pada lemak sapi sehingga dapat diaplikasikan untuk pembuatan suplemen makanan penurun kadar kolesterol. Selain itu dapat disimpulkan bahwa semakin besar massa kitosan yang dicampurkan bersama lemak minyak sapi, semakin besar pula penurunan kadar kolesterol pada lemak tersebut.
5.      SARAN
Saran untuk peneliti yang akan melanjutkan penelitian karya ilmiah ini adalah:
1.      Menambahkan variasi waktu pada proses pengadukan minyak dengan kitosan
2.      Menambahkan variasi massa kitosan yang berbeda
3.      Penelitian dilakukan menggunakan media lain, bukan hanya lemak sapi
6.      DAFTAR PUSTAKA
http://www.farmasiku.com/index.php?target=categories&category_id=194
http://winan08.student.ipb.ac.id/
Abdullah & Indro. 2008. “Pembuatan Kitosan dari Limbah Cangkang Udang Serta Aplikasinya dalam Mereduksi Kolesterol Lemak Kambing”. Jurnal Reaktor,12,I. hlm. 53-57.
Helmi & Abdullah. 2012. “Pemanfaatan Kitosan Limbah Cangkang Udang pada Proses Adsorpsi Lemak Sapi”. Jurnal Tugas Akhir.
Muzzamil,Fajr. 2011. “Efektifitas Zat Aktif Dalam Biji Kelor (Moringa Oleifera) Untuk Menurunkan Kolesterol”. Makalah Opsi
Badan POM. 2008. “Chitosan”. Naturakos. hlm. 10-12.
Shabela,Rifdah. 2012. “Pahami Waspadai Cegah & Musnahkan Kolesterol” Klaten: Cable book.
Mahendra,Jarot. 2007. “Pemanfaatan kitosan dan kitosan termodifikasi dari limbah udang sebagai adsorben logam Cu, Cr, dan Zn” Jurnal Tugas Akhir.

Friday, 16 May 2014

PEMBUATAN SAMPO ANTI KUTU KUCING BERBAHAN DASAR DAUN SRIKAYA

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daun srikaya dalam membasmi kutu kucing dan membuat sampo pembasmi kutu kucing berbahan dasar daun Srikaya.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, yaitu metode penelitian yang membutuhkan treatment atau perlakuan kepada objek yang akan diteliti. Kelas eksperimen dalam penelitian ini menggunakan variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas penelitian ini adalah sampo berbahan dasar daun srikaya dengan konsentrasi tertentu. Sedangkan variabel terikatnya adalah kutu pada kucing yang diberikan perlakuan oleh sampo berbahan dasar daun srikaya tersebut.Kelas kontrol dari penelitian ini adalah kucing yang memiliki kutu namun tidak diberikan perlakuan apapun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17 September 2012 sampai tanggal 15 Oktober 2012 di Laboratorium biologi dan kimia SMA Lazuardi GIS.  Setelah dilakukan penelitian, maka hasil yang diperoleh adalah daun srikaya yang dijadikan bahan dasar pembuatan sampo anti kutu kucing dapat menghilangkan kutu pada kucing dan dapat juga digunakan untuk mengurangi kerontokan, menghilangkan kotoran pada rambut kucing, serta memperhalus bulu  pada kucing.

Kata Kunci: Kutu Kucing, Kucing, Sampo, Daun srikaya.


1.      Latar Belakang
            Di era Globalisasi ini, banyak orang yang malah menjadikan kucing sebagai binatang kesayangan di rumah. Sosok yang cantik, ramah, dan bersahabat menjadikan dirinya senbagai hewan peliharaan yang menyenangkan. Akan tetapi, tanpa kita sadari hewan ini dapat dengan mudah  diserang oleh berbagai macam parasit dan hama, salah satu yang paling umum adalah kutu.
(http://www.anneahira.com/kutu-kucing.htm)
            Kutu kucing menjadikan ku-cing sebagai inangnya. Baik kutu betina maupun kutu jantan mengonsumsi darah inangnya (kucing) sebagai makanannya agar bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Hewan ini dapat dengan mudah berpindah dari satu kucing ke kucing lainnya. Kutu juga tumbuh dan berkembang biak pada tubuh kucing, sehingga jumlah kutu pada setiap kucing semakin lama akan semakin bertambah bayak jika tidak segera diberantas.
            Banyak tumbuhan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai zat aktif pembasmi hama atau parasit. Salah satunya yaitu kutu pada kucing. salah satu yang dapat dimanfaatkan tumbuhan sebagai pembasmi kutu pada kucing adalah tanaman Srikaya, khususnya daun yang dimiliki tanaman ini.
            Pada umumnya, masyarakat hanya memanfaatkan buah srikaya untuk dikonsumsi. Namun, daun dari tumbuhan yang banyak di temui di sekeliling kita ini tidak banyak dimanfaatkan. Padahal daun ini diyakini dapat membasmi kutu pada kucing.(Arum Putri S, 2011).
2.      Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, yaitu metode penelitian yang membutuhkan treatment atau perlakuan kepada objek yang akan diteliti. Kelas eksperimen dalam penelitian ini mengunakan variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas penelitian ini adalah sampo berbahan dasar daun srikaya dengan konsentrasi tertentu. Sedangkan variabel terikatnya adalah kutu pada kucing yang diberikan perlakuan oleh sampo berbahan dasar daun srikaya tersebut, kelas kontrol dari penelitian ini adalah kucing yang memiliki kutu namun tidak diberikan perlakuan apapun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17 September 2012 sampai tanggal 15 Oktober 2012 di Laboratorium biologi dan kimia SMA Lazuardi GIS.
3.      Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Data dalam penelitian ini dicatat dalam lembar observasi yang berupa tabel pengamatan. Pengisi tabel pengamatan berdasarkan pengamatan terhadap keefektivitas dari sampo berbahan dasar daun srikaya yang diberikan pada 8 sempel kucing.Dari delapan ekor kucing, sebanyak 2 ekor dijadikan sebagai variabel kontrolnya sedangkan 6 ekor kucing dijadikan sebagai sampel yang diberi treatment.
Contoh tabel 1.Data pengamatan terhadap kucing yang diberi treatment
Kucing
Sebelum treatment
Sesudah treatment
Jumlah Kutu/ ekor (dalam 1 menit)
Jumlah Kutu/ ekor (dalam 1 menit)
Sampel 1


Sampel 2


Sampel 3


Sampel 4


Sampel 5


Sampel 6


Kontrol 1


Kontrol 2

























Iinstrumentasi Penelitian
Untuk membuat sampo srikaya alat yang dibutuhkan adalah: Blender, Alat timbangan, Pengaduk bahan, Gelas piala, Alat pemanas, Botol plastik/ kaca serta bahan: Texapon, Comperland,Garam, Aquadest, Srikaya.Untuk me-mandikan kucing, alat yang dibutuhkan adalah: Handuk atau pengering rambut (hairdryer) serta bahan: Air bersih dan Sampo anti kutu berbahan dasar daun srikaya.
4.      Prosedur pembuatan penelitian
-          30-40 daun srikaya dan 110 ml aquadest dimasukan dalam blender.
-          Daun srikaya di blender sampai halus.
-          Mencampurkantexapon dengan comperland di dalam gelas piala, (aduk hingga rata).
-          Menambahkan daun srikaya yang telah dihaluskan dan aquadest sedikit demi sedikit (aduk hingga rata).
-          Diamkan semalaman hingga busa-nya hilang(cairan kental berwarna putih jernih).
-          Masukan garam.
-          Memanaskan campuran bahan hingga garamnya larut.
-          Memasukan campuran bahan ke dalam botol plastik/kaca.
-          Sampo siap digunakan.
-          Sampo dituang pada rambut ku-cing yang basah, lalu diratakan ke seluruh tubuh kucing.
-          Kucing dibilas dengan menguna-kan air bersih dan dikeringkan me-ngunakan handuk atau pengering rambut (hairdryer).
-          Kucing diambil dari kadang dengan lembut.
-          Seluruh tubuh kucing dibasahi mengunakan air bersih.
-          Sampo dituang pada rambut ku-cing yang basah, lalu diratakan ke seluruh tubuh kucing.
-          Kucing dibilas dengan menguna-kan air bersih dan dikeringkan me-ngunakan handuk atau pengering rambut (hairdryer).

5.      Hasil dan Pembahasan
Dalam 1 menit, dilakukan pencarian kutu pada setiap sampel.Selain itu pengamatan juga dilakukan terhadap keadaan rambut sampel. Pengamatan terhadap sampel dilakukan sebelum dan sesudah treatment Berikut ini hasil data pengamatan dilakukan:
Kucing
Jumlah Kutu/ ekor (dalam 1 menit) Sebelum treatment
Jumlah Kutu/ ekor (dalam 1   menit) Sesudah treatment
Sampel 1
3
-
Sampel 2
2 (dengan beberapa telur kutu)
-
Sampel 3
3
1
Sampel 4
2
-
Sampel 5
5
2
Sampel 6
2
-
Kontrol 1
4
3
Kontrol 2
2
1
Tabel 2. Data Pengamatan KutuKucing


















Pada tabel  pengamatan, untuk membuktikan jumlah kutu pada kucing yang diberikan sampel, maka dilakukan pengamatan kepada sampel selama kurang lebih 1 menit. Namun, apabila dalam kurung waktu 1 menit tidak ditemukan kutu pada kucing, maka waktu pencarian ditambah hingga 5 menit.Agar dapat mem-perkuat data apakah sampo srikaya dapat menghilangkan kutu pada kucing. Dari data tabel 4, dapat di-ketahui bahwa jumlah kutu pada ku-cing yang diberi treatment semakin berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Rambut setiap kucing juga menjadi lebih bersih, halus dan kerontokan berkurang.
Dari data yang diperoleh da-pat disimpulkan bahwa daun srikaya efektif  jika dijadikan bahan dasar pembuatan sampo srikaya. Daun srikaya juga mengandung minyak anonain dan resin. Minyak anonain dan resin dapat berfungsi sebagai penolak kutu,  penghambat peletakan telur dan mengurangi nafsu makan pada kutu. Sehingga dengan satu kali pemakaian saja sudah cukup terlihat hasilnya.
Kelebihan lainnya yang terlihat pada rambut sampel yaitu ra-mbut terlihat lebih bersih setelah di-berikan treatment.Hal ini disebabkan oleh busa yang dihasilkan comperland pada sampo srikaya dapat mengangkat kotoran-kotoran lain yang terdapat pada rambut kucing.Jumlah ke-rontokan rambut sebelum treatment berkurang setelah diberikan treatment.Hal ini dikarenakan sebelum di-treatment, ketika disentuh rambut kucing terasa kasar akibat ada beberapa partikel kotoran yang menempel pada rambut kucing.Salah-satu penyebab kerontokan pada kucing adalah adanya penyakit atau parasit yang hidup ditubuh kucing.Minyak anonain dan resin dapat berfungsi sebagai penolak kutu,  penghambat peletakan telur dan mengurangi nafsu makan pada kutu.
(http://www.sobatbumi.com), Sehingga dapat membantu membasmi parasit yang ada pada tubuh kucing.Namun, ketika telah dibersihkan menggunakan sampo, rambut menjadi lebih halus dari sebelum diberikan treatment.Hal ini dikarenakan busa pada sampo yang dihasilkan oleh comperland membantu mengangkat partikel-partikel kotoran pada rambut kucing dan mencegahnya balik lagi.Oleh sebab itu ketika di-sentuh kembali rambut-rambut kucing pun terasa lebih halus.Text Box: 24
6.      Kesimpulan
Daun srikaya yang me-ngandung minyak anonain dan resin ternyata dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sampo khusus untuk kucing. Karena senyawa tersebut efektif mengurangi dan membasmi kutu pada kucing.Terbukti hanya dengan dua kali pemberian treatment pada kucing, keberadaan kutu pada sampel kucing berkurang.
7.      Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menambahkan pengawet, pe-wangi dan pewarna agar tampilan sampo menjadi lebih menarik, serta Perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap tanaman lain yang juga efektif dalam membasmi kutu pada kucing.
8.      Daftar Pustaka
1)      Ali Muhammad Suwed SE & Budiana N.S. 2009. Membiakan Kucing Ras. Jakarta: Penebar Swadaya
2)      Arum Putri S. 2011. Khasiat Buah & Manfaat Sayur. Yogyakarta: Immortal Publisher
3)      Departeme Pendidikan nasional. 2005. Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka
4)      Diannestyas A. 2004. Formulasi sampo dengan mengunakan keragianan refine sebagai pengental. Depok: Universitas Indonesia
5)      http://kittykrafty.com/awas-kutu-anjing-atau-kucing. Diakses pada hari/tanggal: Kamis/ 23-08-2012. Pukul 18.31 WIB
6)      http://kutudanjamur.blogspot.com/2011/10/kutu-kucing-itu-ternyata-pinjal.html. Diakses pada hari/tanggal: Kamis/ 13-09-2012. Pukul 08:51 WIB
7)      http://medicafarma.blogspot.com/2008/05/teori-tentang-shampo_11.html. Diakses pada hari/tanggal:Senin/ 03-09-2012. Pukul 22.59 WIB
8)      http://meong-kucing-ku.blogspot.com/2011/05/cacing-pita-perusak-usus-kucing.html. Diakses pada hari/tanggal: Kamis/ 13-09-2012. Pukul: 8:23 WIB
9)      http://ml.scribd.com/doc/26040611/parasitologi-Tuma-Kutu. Hari/tanggal: Sabtu/ 08-09-2012. Pukul: 13:11WIB
10)  http://mustika-wararatna.blogspot.com/2012/04/kucing-felis-silvertris-catus-adalah.html. Diakses pada hari/tanggal: Senin/ 03-09-2012. Pukul: 23.17 WIB
11)  http://nra20.wordpress.com/tag/apa-sih-sebenernya-shampo-itu. Kamis/ 23-08-2012. Pukul 18.48 WIB
12)  http://perawatankucings.blogspot.com/2011/05/awas-kutu-anjing-atau-kucing.html. Diakses pada hari/tanggal: Kamis/ 23-08-2012 pukul 18.18 WIB
13)  http://www.anneahira.com/kutu-kucing.htm. Diakses pada hari/tanggal: Senin/ 30-07-2012. Pukul 16.51 WIB
14)  new-varietas. Diakses pada hari/tanggal: Kamis/ 13-09-2012. Pukul: 17:53
15)  Minggu/ 04-11-2012. Pukul  20.54 WIB
16)  Kesumawati Hadi Upik & Soviana Susi. 2010. Bogor: PT penerbit IPB Press
17)  S. Alex 2010 Panduan Lengkap Memelihara Anjing & Kucing. Yogyakarta: Pustaka Baru Press
18)  S. Alex. 2011. Budidaya dan khasiat srikaya untuk kesehatan & bisnis makanan. Yogyakarta: Penerbit Pustaka baru press
19)  Wiguna Albyant, dkk. 2011. Perbandingan efektifitas sampo berbahan dasar kimia dengan sampo berbahan dasar kangkung dalam mengatasi ketombe (impomea aquatic forks)